Tampilkan postingan dengan label Tentang toraja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tentang toraja. Tampilkan semua postingan

Adu Kerbau atau Ma'pasilaga Tedong

Kabupaten Tana Toraja dan Kabupaten Toraja Utara merupakan daerah tujuan wisata andalan di Sulawesi Selatan yang mempunyai adat istiadat dan alam yang sangat mempesona yang membuat kita rindu untuk kembali kesana. Salah satu yang wajib untuk disaksikan jika berkunjung ke Toraja adalah kegiatan adu kerbau atau dalam bahasa Toraja disebut Ma'pasilaga Tedong.

Mapasilaga Tedong diselenggarakan dalam satu rangkaian dengan upacara Adat Rambu Solo, yaitu upacara pemakaman orang yang telah meninggal dunia. Dalam adat masyarakat Toraja, Kerbau merupakan hewan yang dianggap suci, begitu pula dalam acara ini kerbau yang diadu bukanlah kerbau sembarangan tetapi merupakan kerbau aduan (pilihan)  yang mempunyai otot yang kekar dan jenis jenis tertentu. Biasanya kerbau yang diadu adalah jenis Kerbau Pudu' (Kerbau berwarna hitam), Kerbau Saleko (Kerbau berwarna belang hitam putih), Kerbau Bonga (kerbau yang mempunyai warna putih di sekitar kepala), Kerbau Lotong Boko'(kerbau yang mempunyai warna putih dipunggung) dan masih banya jenis kerbau yang lain.

Pasar kerbau


Kerbau-kerbau yang diperjualbelikan di Pasar Bolu, Kecamatan Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan bukan hanya terlihat di tengah pasar. Di pinggir pasar, banyak pula kerbau yang menanti datangnya pembeli. Foto diambil baru-baru ini. [Pembaruan/Aa Sudirman]. “Datang pagi – pagi ke pasar kerbau di Bolu tidak ada duanya di dunia. Hanya buka seminggu sekalo,”kata seorang kawan di Jakarta saat mendengar rencana Pembaruan ke Tana Toraja. Pasar Kerbau ? Mengapa mesti ke sana ? Budaya Toraja memang tidak bias dipisahkan dari kerbau atau dalam bahasa setempat disebut Tedong.

Tapi pasar kerbau? Apa yang menarik?

Bukankah yang menarik bagi wisatawan di sana biasanya adalah upacara Rambu Solo atau upacara kematian yang sering dimeriahkan dengan adu kerbau. Atau Tongkonan, rumah keluarga khas Toraja yang terkenal itu. Atau bukit dan gunung yang dijadikan tempat penyimpanan mayat yang dahsyat. Semua pertanyaan itu terjawab saat tiba di pintu masuk pasar Bolu. Pasar tersebut terletak di desa yang dalam bahasa setempat di sebut Lembang, Tallunglipu, Kecamatan Rantepao. Belum jam 9.00 Jumat pekan lalu itu. Dan ternyata pasar itu tidak hanya menjual kerbau. Di bagian belakang pasar itu juga terlihat jual beli babi. Angin masih terasa dingin saat itu. Setelah melalui puluhan warung serta kendaraan angkutan kota di samping pasar, pemandangan itu pun terlihat di depan mata. Ratusan kerbau. Ini bukan pemandangan biasa. Seorang pedagang menyebutkan, setiap hari pasar sekitar 500 kerbau diperjualbelikan. Pasar Bolu bukan hanya menawarkan wisata mata semata. Di balik kesibukan di pasar tersebut terdapat banyak makna yang berkaitan dengan budaya Toraja. Hal tersebutlah yang diterangkan Kepada Dinas Pariwisata, Kabupaten Tana Toraja, Lewaran Rantela'bi. Menurut pria yang sangat bersemangat jika diajak bicara tentang budaya Toraja itu, pasar kerbau berlangsung enam hari sekali. Bukan seminggu sekali. Hari pasar yang ditetapkan enam hari sekali itu merupakan hasil perhitungan leluhur masyarakat Toraja sejak ratusan tahun lalu.



"Banyak aspek penting yang bisa kita dapatkan jika kita mau mempelajari budaya Toraja. Setiap upacara adat bahkan jual beli kerbau merupakan refleksi keluhuran ilmu pengetahuan leluhur kami. Setiap motif ukiran Toraja mempunyai makna filosofi tentang kehidupan kita semua. Motif kerbau pasti ada dalam ukiran di Tongkonan milik orang Toraja. Itu tanda betapa kerbau punya hubungan mendalam dalam kehidupan kami," paparnya.



SIBUK

Lepas dari urusan makna itu, yang pasti, di pasar itu ratusan kerbau beragam jenis dan ukuran berkeliaran di tengah dan di pinggir-pinggir pasar. Ukuran dan jenis tanduknya pun berbeda-beda. Jangan lupa, warna dan jenis kulit kerbau merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi harga kerbau. Jika kerbau kecil berwarna hitam hanya dihargai sekitar 5 juta, dan kerbau hitam besar sekitar 10-15 juta maka kerbau belang yang lebih dikenal dengan istilah Tedong Bonga harganya bisa mencapai sekitar 60 juta rupiah.

"Saya punya kerbau Saleko yang kepalanya putih, bagian badan belang dan kakinya putih. Sudah ada yang menawar 80 juta. Tapi belum saya jual," ungkap Yohan Singkali tentang kerbau Saleko yang langka ditemukan dan punya nilai jual tinggi jika dibandingkan dengan jenis kerbau lainnya.

Puluhan kerbau terlihat di kandang-kandang yang telah disediakan di tengah pasar.

Ratusan manusia, sebagian besar adalah pria dengan sarung di pinggangnya berjalan hilir mudik. Ada pula yang menutupi kepalanya dengan sarung. Beberapa diantaranya sibuk memasukkan rumput ke mulut kerbau. Ada pula yang tengah menggosok kerbaunya. Ada yang tengah beradu tawar. Ya, ya, ya, inilah wisata mata yang lain dari yang lain.



UNIK

Berjalan-jalan di pinggir atau di dalam pasar yang berupa lapangan berumput sungguh menyenangkan. Menyelinap di balik barisan kerbau juga pengalaman menyenangkan. Kehati-hatian jelas harus dijaga. Tanduk kerbau dewasa yang runcing jelas bisa menembus baju dan jaket kita juga jika sang kerbau tiba-tiba saja bertindak agresif.

Bukankah semua itu tujuan wisata yang menarik? Tidak salah jika Pemerintah Daerah Toraja sebagaimana terlihat dalam situs toraja.go.id menyebutkan bahwa pasar Bolu merupakan salah satu tujuan wisata di Tana Toraja.



Tapi apa benar pasar sudah menjadi tujuan wisata? Rasanya sekarang sudah kurang tepat lagi. Bukan apa-apa, sejak terjadinya aksi-aksi para pengecut yang melakukan pengeboman di Bali, di Jakarta dan di beberapa tempat lain, jumlah kunjungan wisatawan, terutama wisatawan mancanegara ke Tana Toraja terus menurun. Jika pada 2000 jumlah wisatawan dalam dan luar negeri mencapai jumlah 76.377 orang, pada 2004 data pemda setempat menyiratkan kondisi memprihatinkan. Hanya 27.564 orang. Penurunan tajam yang sebagian besar disebabkan keengganan wisatawan asing datang ke Indonesia karena alasan keamanan tampak jelas dalam data pada 2004. Jumlah wisatawan asing yang datang pada tahun itu hanya 5.762 orang sedangkan wisatawan dalam negeri tercatat 21.802 orang.



Faktor keamanan yang merupakan syarat penting dalam industri pariwisata, tidak terpenuhi. Wisatawan jelas tidak bisa dipersalahkan. Jangan lupakan soal transportasi menuju Tana Toraja yang juga tidak mudah. Sekitar tujuh hingga delapan jam perjalanan darat dengan menggunakan bus dari Makassar. Melelahkan. Hanya ada dua kali penerbangan udara dalam seminggu dari dua kota itu. Apapun, yang jelas, muramnya potret pariwisata di Toraja terlihat atau setidak-tidaknya bisa disimpulkan dari jumlah wisatawan di Pasar Bolu. Hanya ada beberapa wisatawan asing yang terlihat tengah mengelilingi pasar Bolu. Selebihnya, ya, para pedagang dan pembeli kerbau.



Satu lagi fakta dampak gangguan keamanan pada sektor pariwisata. Padahal jika saja pemerintah sudah bisa membabat habis aktor intelektual yang merancang aksi-aksi bom di Indonesia, dan jalur transportasi dari dan menuju Tana Toraja semakin cepat dan murah, wisatawan akan kembali datang. Bukankah Tana Toraja pernah menjadi favorit para wisatawan.

Dan Pasar Bolu, jelas bisa menjadi daerah tujuan wisata yang unik. Bukan saja terunik di Toraja atau di Sulawesi Selatan atau di Indonesia. Bisa jadi pasar itu merupakan pasar terunik di planet ini. Dan ini aset besar bagi pariwisata di Indonesia. Sekaligus bukti betapa kayanya budaya Toraja. Betapa cerdasnya leluhur Toraja yang mampu melahirkan budaya sarat makna dan menarik untuk direnungkan

Masuknya Injil Di Toraja

Tana Toraja, sebuah negeri di atas pegunungan, di pedalaman Sulawesi Selatan. Dipandang dari letaknya, tidaklah terlalu strategis, jika dibanding daerah-daerah lain di Sulawesi Selatan. Toraja adalah sebuah misteri. Hendrik Kraemer mengatakan, “Toraja akan menjadi pusat perhatian di Indonesia bagian Timur”. Hal ini disampaikannya puluhan tahun yang lampau. Toraja itu indah. Toraja itu Firdaus yang hilang. Dan ada yang bercita-cita meninggal dan di kuburkan di Tana Toraja.
Toraja adalah misteri, tentu dengan hubungannya dengan Injil Yesus Kristus. Injil datang, bertumbuh dan berkembang di sana, adalah suatu rahasia yang mendalam, yang tidak dapat diukur dan diselami. Akhirnya, misteri itupun memuncak ke permukaan. Tana Torajalah salah satu tempat yang digunakan Allah untuk menyatakan kebesaran kasih dan kelimpahan damai sejahtera-Nya bagi dunia ini. Tana Toraja dan orang-orang Toraja, hanya alat untuk mencapai manusia yang dikasihi-Nya. Pemahaman dan kesadaran barupun muncul. Berbahagialah orang Toraja, karena Injil membuat tempat terpencil itu bertumbuh, terbuka, mengenal ilmu pengetahuan dan kemajuan dalam berbagai segi.

Anthonie Aris Van de Loosdrecht, 28 tahun, utusan Injil GZB, adalah penginjil yang pertama kali menginjakkan kaki di Tana Toraja. Ia datang pada tanggal 10 November 1913. Ia seorang muda yang berangkat dari negerinya – Nederland, menempuh suatu perjalanan yang panjang melintasi benua dan samudera untuk membawa berita Injil ke Tana Toraja. Ia berangkat dan tidak pernah kembali lagi ke negerinya. Dialah yang memulai pekhabaran Injil di Tana Toraja. Ia membuka sekolah di beberapa tempat. Ia mengalami banyak tantangan dalam menjalankan misinya, terutama karena orang Toraja sulit berpindah keyakinan.

Sesudah dua tahun menunggu, baru ada 4 orang pemuda yang bersedia mengikuti pelajaran Agama Kristen, yaitu Welem Bokko’, Kadang, Taroe’ dan Pabolo. Tanggal 23 Mei 1915, keempat pemuda itu dibabtis.

Akan tetapi kemudian hari Welem Bokko’ murtad. Babtisan kedua dilakukan pada tanggal 11 Juli 1917 terhadap 9 orang di Kalambe’. Beberapa hari setelah itu, tepatnya pada tanggal 26 Juli 1917, Anthonie Aris Van de Loosdrecht terbunuh di rumah Guru Manumpil di Bori’. Sebatang tombak tertancap pada punggung menembus perutnya. Ia menjadi martir pertama di Tana Toraja. Karena itu, beliau tetap dikenang sampai sekarang dan sepanjang masa.

Pendeta D. J. Van Dijk tiba di Tana Toraja menggatikan almarhum Anthonie Aris Van de Loosdrecht pada tahun 1927. Seperti pendahulunya, iapun banyak mengalami kesulitan. Namun demikian, dalam tahun 1932 – 1945 pemberitaan Injil mengalami kemajuan dan pertumbuhan luar biasa. Tahun 1929 : 78 orang dibabtis; tahun 1932 : 6301 orang dibabtis; tahun 1936 : 10.831 orang dibabtis; tahun 1938 : 12.251 orang dibabtis; dan tahun 1945 : 45.000 orang dibabtis.

Akhirnya, secara kelembagaan, Gereja Toraja berdiri pada tahun 1947, yaitu saat dimulainya Sidang Sinode Am yang pertama.
Dikutip dari bacaan : “Sebuah Alur Perjalanan Suatu Jemaat”.

Oleh :

Pnt. Anthonius Sarampang

(Anggota BPM)

OSSORAN TEMPON DAOMAI LANGI'

OSSORAN TEMPON DAOMAI LANGI'
(naosso' Ne' Mani', to minaa daomai Sereale)
H. VAN DER VEEN
The Merok Feast of the Sa'dan Toradja en The Sa'dan Toradja Chant for the
Deceased (VKI 45/1965 en 49/1966).

1.Langi'mo mula-mulanna sola tana. Nagaragai ampunna tana,ampunna lino. Sirampanammi kapa' langi' na tana. Dadimi tau a'pa',iamo tu: disanga Puangdilalundun, disanga Labiu-biu, disanga Indo' Ongon-Ongon, disanga Simbolongpadang.
2.Malemi Simbolongpadang sirampanan kapa' Riba'. Unggaragami kila', unggaragami sanda kadake, sisarakmi langi' na tana. Ma'kornbongammi tu tau tallu, nakua: "Unggaragamo kadake siulu'ta — na mindamoki' ungkambi' tutungan bia'?" Disituru'imi tu Labiu-biu ungkambi' tutungan bia'.


3.Malemi tu Indo' Ongon-Ongon rokko to kengkok, sirampanan kapa' Pong Tulakpadang. Unggaragami lino', usseno padang, unggaragami angin, unggaragami bongi. Malemi Puangdilalundun langngan langi' sirampanan kapa' Gauntikembong, dadimi Pong Bero-Bero.
4.Unggaragami bintoen, unggaragami bulan, unggaragami allo. Iatonna dolona, masiang bangpa — tae' allo, tae' bongi. Sirampanammi kapa' Arrangdibatu na Pong Bero-Bero. Dadimi Puang Matua Dolo disanga Puang Tongkon.
5.Sirampanammi kapa' Puang Tongkon tu Tumba' Paparilangi'. Dadimi Puang Matua, To petiro aluk, dadi Indo' Samadenna, dadi Barrangdilangi'. Malemi tama bulan Indo' Samadenna, male tama allo Barrangdilangi'. Untiromi kuli'na langi' Puang Matua — manippi'pa kuli'na langi' tonna dolona.
6.Iatonna dolona dao langi', piong ba'tan bangpa dipobo'bo', dena' dipomanuk. Dirtunnukmi riti bulaan, die'te'mi kala'siri lambe'. Kombongmi sauan sibarrung, ombo'mi tandasan sikori-kori.Disondokammi sauan sibarrung daomai sepena langi'; ditampami kuli'na langi', disanga Patalabunga.
7.Tiballa'mi rante masangka', tidandanmi buntu malangka'. Ditampa nene'na batu disanga Patalabintin. Ditampami aluk 7 lise'na, 7 pulona, 7 ratu'na, 7 sa'bunna, 7 kotekna, 7 tampangna,7 sariunna.
8.Malemi nene'na sakke untongkonni sumengana lombok. Diembongmi bulaan tasak sola nene' tang karauan. Iamo ditampa nene'na bo'bo', disanga Bumbunganrante, diganti Datu Lamemme'. Ditampami nene'na to lino, Datu Laukku'; nene'na tominaa La'langlangi', diganti Kambunolangi'.
9.Ditampa nene'na to indo', Datu Mengkamma' (Karaeng Ma'loko-loko). Ditampa nene'na to burake, disanga Killi'-Killi'. Nene'na to ma'gandang, disanga Mandaikama. Nene'na kaunan, disanga Pottokalembang, iamo to dipotedong-tedong uma, to dipokarambau tempe'.
10Tae'pa sambo boko'na tonna dolona. Ditampami nene'na sampin, disanga Ungku, Rambutikembong tungka sanganna. Rindingnami, sikasiri' datu, sikatumpu' ampu lembang. Ditampami nene'na serre', disanga Datu Parerung. Ditampami nene'na pangngan, disanga Kaise'.
11.Ditampami nene'na punti, disanga Datu Marorrong; nene'na tallang, disanga Kumirrik; nene'na ao', disanga Ma'buku bulaan; nene'na induk, disanga Monggo; nene'na sendana, disanga Labengnga'; nene'na manuk, disanga Lua'kollong; nene'na asu, disanga Buriko'; nene'na bai, disanga Riwati; nene'na tedong, disanga Manturiri; nene'na ipo, disanga Datu Merrante, Allotiranda tungka sanganna; nene'na bassi, disanga Riako'.
12.Malemi nene'na sendana ma'rampanan kapa' rekke tampona limbong, sirampanan kapa' Sendana Balo'. Tang sandami rampanan kapa', iami sirampanan kapa' te anakna sauan sibarrung; untumangmi Datu Laukku' bomboan. Nakande solanami manuk, katotok-totok lako sangserekanna, disangami Puang Maro.
13.Urnbaliangammi batu ba'tangna Puangdilalundun, nakua: "Ba'tu la manannang tana' siai ungkambi' tutungan bia' siulu'ku?" Dilando lalannimi Labiu-biu sola Adang Mangkakalena"'. Kendekmi Labiu-biu patutungan bia', ba'tan bangpa tu naposuru' sola dena'.
14.(Paami Datu Laukku', dibura' passakke deata, nakua: "Misami pulu'-pulu' pare,misa simanui tedong.Paami sanda mairi',naarrang tutungan bia'."Susinta to lino, ke denni salata, naarrangki' tutungan bia' — ko la paa batang dikaleta.
15.Malemi nene'na manuk sirampanan kapa' manukna Pong Pirikallo, londongna Pong Ondouai, manuk dadi lanmai kurin-kurin gallang, ombo' rikusi bulaan. Dadimi tallo' siannanan, bamburang sikaruan. Randukmi petanda masiang, nene'na manuk. Randukmi nene'na bo'bo' umpangidenni pare bu'tu ri Tombang, pare to manglaa tedong.
16.Randukmi nene'na manuk dinaran lolokna banni' rekke ulunna langi'. Randukmi diborong-boronganni nene'na manuk: lotong: kambi'na rampanan kapa'; karurung: diposuru' kale; koro: kambi'na lemba kalando; rame: kambi'na sakke malino; lette' riri: kambi'na tallu bulinna; seppaga: kambi'na alang dibando;
17.burï: kambi'na ma'belo tadi; buri'tik: kambi'na tengko randuk; uranuran: kambi'na kombong masirri (induk); bu'ku': kambi'na doko maripi'; bulu tui: kambi'na ma'bala tedong; sa'pang: kambi'na datu matasak; lappung mabusa baba'na: kambi'na raukan tedong; pute: kambi'na tananan bua', ungkambi' lumbaa langi'; bullau: dipopetangka' ura'.
18.Tiborongmi nene'na manuk. Randukmi dipotangkean suru'. Bendanmi suru'na uase to pande sola bingkung to manarang. Malemi tama pangala' tamban Puang Paonoran, nakua: "Kayu apako te?" Nakuami mebali: "Kayu uru, dikombong pandoko dena'." Tae'pa nadisanga banua. Nakuaomi: "Kayu apako te?" Nakuami mebali: "Kayu betau".Napasandami rere'na, napaganna' sanda karua.
19.Napamuntui uase, napamuntui bingkung; apa manokapa ma'lingka. Napatongkonmi dao kalandona buntu, untaan angin ma'kada tau. Ma'kadami tu angin, nakua: "Ma'apako dao kalandona buntu, Puang Paonoran?" Mebali Puang Paonoran, nakua: "Inde kayu betau la kugaraga tau, apa tang ma'ulelean. La kutaanpa tu angin ma'kada tau, kupatamai batang dikalena."
20.Nakuami angin ma'kada tau: "Den manii aluk musala, kumallaimo lan mai batang dikalena, mukuami: Mutoeanna' massangpali' rengnge'." Nakuami Puang Paonoran ma'kada: "Dolo sala, undi mangaku, namakamban kande mammi'na Puang Matua."
21.Nakuami angin ma'kada tau: "La ma'uai ma'tanmo' lan batang dikalena to, la ma'sakke tang tisenggongmo' lan tondon to batangna." Sisulu'mi basse kasalle, angin ma'kada tau na Puang Paonoran, unnindo'mi pandan kabusungan. Moi api sisulu' duka basse Puang Paonoran, nakua: "Pasambiri matako manii lako bangunan banua." Nakuami api: "Aa . . tontongna' diposukaran aluk, ke denni kapemalaran la . . . . "
22.Sirampanammi kapa' anakna sauan sibarrung te kayu betau, sisangami sampu pentallun. Dadimi anakna disanga Pande Patangnga'; unggaragami tandung tiulunna langi'.Dadimi Pande Paliuk, unggaragami bangunan banua. Nene'na tedong male ma'rampanan kapa' disanga Tele'pupu.
23.Malemi Datu Laukku' rekke ulunna langi' sirampanan kapa' Kandomatua, ampona Pong Buatabang, nalolongi kada minnak. Dadi Indo' Pare'- Pare' ungkambi' parekkean para, napotekken battu to. Indo'na Manapa' ungkambi' surasan tallang. Indo' Roatumbang ungkambi' bate manurun.Landosamara ungkambi' raukan tedong.Lua'toding ungkambi' tananan bua'.
24.Randukmi diboronganni tu sendana, naboronganni Pong Mulatau. Sendana balo' ungkambi' surasan tallang. Sendana lumu', ungkambi' tetean tampo. Sendana dongka kumpang rampe matampu'. Sendana lalong umpetajanni kakena bamba sola tarangga masiakSendana sugi' ungkambi' raukan tedong.Sendana bonga malute ditoto parangka dialuk sola patangdo, ke denni tananan bua'.
25.Diboronganni tu nene'na tedong. Sambao': napopendio' talla' to ponto litakan, sulemi sangdunduan pindan. Bulupunte' kambi'na raukan tedong. Kullu kambi'na tananan bua'. Pundulillin kumpang lako rampe matampu'. Todi' sikambi' tana' bassi. Bonga sikambi' tana' bulaan.
26.Kendekmi sangga mairi' daa ulunna langi'. Malemi Pong Mulatau tama tangngana langi', umpokinallo sukaran aluk, sirampanan kapa' Indo' Gori-Gori. Dadimi Manurundilangi'. Umpalumirikmi randanna langi' tangkean suru'. Pariami tangkean suru'. Dadimi sembangan ongan.
27.Bendanmi demmeran para. Paria demmeran para. Dadimi surasan tallang. Bendanmi bate manurun. Bendanmi raukan tedong. Pariami raukan tedong. Bendanmi tananan bua' dao tangngana langi'.
28.Umbungka'mi ba'bana langi' Manurundilangi', ma'banua ditoke', ma'tondok dianginni. Mailu matami rokko tangngana tasik. Nakua: "Diongri loka' la kunii malua' bingkung. Apa iari, ke napatuo ko'to'na' to kapadanganna diong, ke tang situru'na' kuli'na padang."Diroromi buntu malangka', dipatendanmi saruran bulaan. Kombongmi padang di Pongko', ombo'mi padang di Lebukan.
29.Nakuami Manurundilangi': "Den omo te kapadanganna, apa tae'pa tu la kupolalan rokko." Diulingmi eran dilangi', napolalan nene'ta situru' sukaran aluk.Ia nene'na bai madangli' (mataku') unnola eran dilangi', unnola sepenami langi' nene'na bai, tiranduk ilan di Moriu, sirampanan kapa' Torateda', bai bu'tu ri Kanan.
30.Ia nene'na tedong unnola rumassena buntu, tiranduk dio randanna langi', sirampanan kapa' tedongna Indo' Dure'- Dure', tedong mempodongan. Keampo keanakmi tedong, unnorongimi tasik mapulu'; nene'na tedong tiranduk lan di Sinadi. Ia nene'ta Manurundilangi' sirampanan kapa' Marrindiliku; undadiammi tau karua.
31.Misami tang ungkande makula', disanga Ranggauai; iamo disomba tallo'na manuk sola barra' dimamatai.Malemi Saronglea langngan Bone, asu bangpa nasallang. Male Datu Mangoting rokko Palopo, asu dukapa nasallang. Male to tang kumande makula' lako Batuapian. Male Pong Mulapadang lo' Rantebulaan. Male Banggairante tama Siguntu'. Male Pondanpadang tama Lino. Male Pong Tambulibuntu tama Rura.Male Tandiminanga rokko liku.
32.Malingmi tau lo' Siguntu', sandami torro to kampin. Lindomi lindona Patundu' sola Sangga.Nakuami to Sarombon, kadanna to Pasangbayu, to lao' bamba Siguntu':"La ma'patumbamo' inde,la ma'ruang diapamo'? Denmo te aluk kusala sangka' kutengkai kalo',kulamban pasala uma.
33.To malangi' ri bubungan,to tumbang ri papa tallang,bongsu' ri landa banua.To malangi' sao-sao, tumbang salamba-lambana; sao-sao langngan Bone, salamba langngan Balanda. Kenna tang manarang Sangga, kenna tang pande Patundu', ungkita dampinna Bugi', temme' ara'na Balanda." Nakuami to Patundu', kadanna Sanggaiolang: "Ma'dinko mangaku kumba', mangore tanda tinaran, unnaku kande limammu lako to petoe tabang".
34.Nakuami to Patundu': "Tambaimoko to Mambo sola to Pong Beloaak. Ia patutungan bia', patandean sulo-sulo." Rampo ma'rebongan didi, ia mangrampe letokan. Salana pasandak salu — napopa'indo' tama rebongan didi. Salana ma'liu lima lako to petoe tabang, narebongi didi. Sandami nalindo bulanni, pantan nabarre alloi.
35.Sulemi rampanan kapa'. Sulemi mellolo tau. Sulemi doko maripi', rendenan tedong. Sulemi tetean tampo, pesungan banne, nakadang tangkean suru', balo'na tutungan bia'. Sulemi sangga mairi'.
36.Bendanmi bate manurun, dipesung manuk, dipesung bai. Tirandukmi nene' lan lino, tangkean suru' napomatanna lalan, lumepong tondok. Bangunmi ma'tengko randuk.
37.Kendekmi kaise' ma'dandan. Saemi naala anakna to kengkok. Natiromi Marampiopadang tu kaise'na, madarang kebongi, namakamban keallo. Unnindanmi dokena Datu Nakka'.
38.Naraukmi Marampiopadang tu anakna to kengkok. Nadaka'mi Datu Nakka' tu dokena, tae'mo natiro. Ussorongmi rendenan tedong sola tetean tampo sola bulaan tasak, napengkanokai Datu Nakka'. Ma'pasompok sorongmi Datu Nakka'. Malemi Marampiopadang unnala bambalu toding sola ue sitammu bukunna.
39.Randukmi manggaraga buria' Marampiopadang. Nabungkarammi Sampurari mangapi'na tana, ma'tetean ulangmi, ma'pelalan buria' rokko to kengkok. saemi rokko lólokna pao.
40.Narangimi tu gandangna anak to kengkok. Nakuami Marampiopadang: "Mindara dipa'gandangan?" Nakuami to mangkambi' mebali: "Anakna Pong Tulakpadang dirauk dao langi'. Budamo to ma'dampinna natae' namaleke." Nakuami Marampiopadang: "Laoko solanna'." Nakuami tu to mangkambi': "Benna' tu pao mai, kulao ussolangkomi."
41.Saemi lako tondok, ma'kadami tu Marampiopadang, nakua: "Tae'pi aku tau dao banua, kumane ma'dampi." Sae langngan banua, nasapu-sapumi, naalai tu dokena sule. Sulemi kale datunna anak to kengkok, kendek marampa' langngan randanan, urnpotendeng tendengna.
42.Dipokadammi saro tu Marampiopadang. Nakuami: "Samamo' misaroi, ke mipalendu'mi samaanna." Massura' tallangmi; sandami diala tu belona surasan tallang. Natiromi Marampiodang, nakuami ma'kada: "Iamo pole' la saroku: tu belona kapemalaran."
43.Mekutanami, nakua: "Apanna ditanan tu mati' punti?" Nakuami: "Oto'na". Mekutanaomi tu Marampiopadang, nakua: "Na iatu induk?" Nakuami: "Belulukna ditanan." Mekutanaomi tu Marampiopadang, nakua: "Na iatu sendana?" Nakuami: "Tangkena bang ditoto nadiosok. Mekutanaomi, nakua: "Na iatu tallang?" Nakuami: "Oto'na bang ditanan." Mekutanaomi, nakua: "Na apa tu unnoni?" Mebaliomi, nakua: "Gandang".
44.Nakuami Marampiopadang, ma'kada: "Iamo pole' la saroku tu mintu'na tu." Naalami Marampiopadang napatamai buria' tu sarona. Sulemi ma'tetean ulang, untintinmi gandangna. Nakuami to kengkok: "Sae undampi kande limanna." Sitammumi tananan mellao langi', tananan bu'tu ri lino.
45.Napasulemi tu dokena Datu Nakka'. Mamba'tami Marampio padang. Saemi uran. Nasembangi Datu Nakka' tu daunna Marampiopadang. Ma'kadami Marampiopadang lako Datu Nakka', nakua: "Pasuleanna' tu daunku, dokemu nakupasulean dukamoko!" Napasulemi Datu Nakka', apa malayumo.
46.Ussorongmi iananna tu Datu Nakka', nokaomi Marampiopadang. Batang kalenami Datu Nakka' nasorong. Randukmi napotedong-tedong uma Marampiopadang tu Datu Nakka'. To maluangan batu ba'tangna tu Marampiopadang, nasangami anak.
47.Umpala'pa'mi samaanna: ma'parakke para, massura' tallang, merok, ma'bate; pariami; bendanmi tananan bua'. Kendekpa sangga mairï' lan Rura, langnganpa pantan sola nasang. Randukmi sirampanan kapa' Bombongberu' na Mellaolangi', napatudu leko' Pong Marattiatinting, nakua: "Dadimo anakmu baine sia muane, Londongdirura; pasirampananni kapa'."
48.Sengkemi Puang Matua, nakua: "Umbamo papa rara'na tu to misa dikombong, dipasirampanan kapa'?"Apa mandappi'pa langi' sola tana tonna dolona. Nakuami Londongdirura: "Indemo tananan bua' papa rara'na."
49.Nalambi'- mi pangandaran, tallanmi rokko liku to disalampe maniki. Lampungmi Sokko Kalale' sola Indo' Pare'-Pare'. Lampungmi tarukna La'bi Tombeng lako randanna langi'. Karapa natang bendanpa eran dilangi', naola to situang tanduk langngan ba'tangna langi' . . . .
50.Nakuami Puang Matua: "Umbako situang tanduk?" Mebalimi nakua: "Natumangkan kami Pong Marattiatinting." Nakuami Puang Matua: "Ina'pa kusanda malambi'. Lando lalanniko, Suloara' sola Buauran rekke ui'na padang di Sesean. Mupa'sarrinni sanda kadake Pong Marattiatinting sola Pong Marattiabonga.
51.Baai te kalosi kalebu, kalosi sangpiak, kalosi sangtepo, kalosi sangdaluk. Ia la unnissan sampu pissan, sampu penduan. La mutanan tu kalosi. Ianna tuo tu kalebunna pamanda'i lan rampanan kapa' to siulu'. Ianna ia tuo tu sangpiakna, sampu pissan. Ianna ia tuo tu sangtepona, sampu penduan."Pakalan sanglesona manna tuo na sangdalukna.
52.Pakalan rampomi Suloara' sola Buauran patutungan bia'. Rampomi ma'rebongan didi. Malingna Bombongberu' sola Mellaolangi' napopa'indo', tama rebongan didi. Balo'mi tutungan bia'.
53.Sulemi Sokko Kalale' sola Indo' Pare'- Pare' nakadang tutungan bia': Ma'bua'mi Pondanpadang ,la'pa'mi Buntuarroan .Ia bua' dipasarra', samaa ditulu-tulu. Iamo bua' tang damma', samaa tang beluakan. Lao' bambana Lembang, kendekmi sangga mairi', naria tananan bua'.
54.Randuk tumengkami nene', tumengka sola alukna, lao sola bisaranna. Rampo ribamba Marinding, rampo ma'rampanan kapa', lako nene' Buenmanik. Nasalungan kada minnak,naria kada tangguli. Tumampa-mampami rara'. rumende-mende sarapang. Dadi taruk bulaanna.
55.Dadimi Tangdililing, Pasontik, Pong Seppabulaan, Pong Kalolokna sola Pussabannangna.Iamo umbangun banua tu Pong Kalolokna sola Pussabannangna. Namale unnala tedong tama pangala'. Nakuami Beka'-Beka' sola Maradonde': "Saemo ambe'ku umbaa tedong sola banua." Male Pong Seppabulaan unnala bai rokko Moriu, nasanga burana lemba kalando.
56.Napariaimi tangkean suru', natana' sarri', namasirri makamban. Bendanmi sembangan ongan dialami ampo anakna susu ma'dandan, tang tirambanmi sangserekanna. Pariami sembangan ongan.
57.Bendanmi surasan tallang. Paria surasan tallang. Bendanmi raukan tedong. Bendanmi bate manurun. Paria bate manurun. Bendanmi tananan bua' lo' padang di Marinding.





Menurut beberapa pendapat bahwa sebanrnya tradisi yang ada ditoraja ada kemiripan dengan tradisi Yahudi. contoh todipeliang tama batu lo'ko'. Muane disunna dengan menggunakan batang jambu dan putingnya dibela. tomeluk untuakki kande dewata dilangga namane dikande bersama. ba'ba banua dusura dan dipikpikki rara manuk. To mediok bubun mangarag langkok. tidak boleh makan bangkai. kandian dulang. tulak somba susi salib. Indo' pare'-pare' yamo maria. ma' pande bolong pada saat keduakaan. berpuasa sama dengan ma' buasa. umpake tali duri juga sama dengan kedukaan mebalun saat ma' karuddusan. umpake doke pada saat ma' karuddusan. Jadi ada juga pendapat bahwa orang penyebar agama keliling dunia dulu itu juga singga dibagain selatan Toraja dari timur tengah (yahudi). entah benar atau tidak.


Mungkin ????
Karna yg menjadi halangan bagi kita utk mengenal n tahu pasti tentang aluk, Ada' dan Budaya Toraya adalah tidak ada literatur yg ditinggalkan oleh nene'ta (Lontara' nakua tau)
hanya penuturan lisan yg parahnya kadang diputar balik demi prestise sebuah keluarga

salam



SUKU TORAJA

Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat.

Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis

Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti "Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan", sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah "orang yang berdiam di sebelah barat". Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja.

Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lili'na Lapongan Bulan Tana Matari'allo arti harfiahnya adalah "Negri yang bulat seperti bulan dan matahari". Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja).

MITOS
Menurut mitos, leluhur orang Toraja adalah manusia yang berasal dari nirwana, mitos yang tetap melegenda turun temurun hingga kini secara lisan dikalangan masyarakat Toraja ini menceritakan bahwa nenek moyang masyarakat Toraja yang pertama menggunakan "tangga dari langit" untuk turun dari nirwana, yang kemudian berfungsi sebagai media komunikasi dengan Puang Matua (Tuhan Yang Maha Kuasa - dalam bahasa Toraja).

Lain lagi versi dari DR. C. CYRUT seorang anthtropolog, dalam penelitiannya menuturkan bahwa masyarakat Tana Toraja merupakan hasil dari proses akulturasi antara penduduk lokal yang mendiami daratan Sulawesi Selatan dengan pendatang yang notabene adalah imigran dari Teluk Tongkin (daratan Tiongkok). Proses akulturasi antara kedua masyarakat tersebut, berawal dari berlabuhnya Imigran Indochina dengan jumlah yang cukup banyak di sekitar hulu sungai yang diperkirakan lokasinya di daerah Enrekang, kemudian para imigran ini, membangun pemukimannya di daerah tersebut

ALUK
Aluk adalah merupakan budaya/aturan hidup yang dibawa oleh kaum imigran dari dataran Indochina pada sekitar 3000 tahun sampai 500 tahun sebelum masehi.

Aluk Sanda Saratu

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini antara lain: Tomanurun Tamboro Langi' yang merupakan pembawa aluk Sanda Saratu yang mengikat penganutnya dalam daerah terbatas yakni wilayah Tallu Lembangna.

Aluk Sanda Pitunna

Wilayah barat

Tokoh penting dalam penyebaran aluk ini di wilayah barat Tana Toraja yaitu : Pongkapadang bersama Burake Tattiu' yang menyebarkan ke daerah Bonggakaradeng, sebagian Saluputti, Simbuang sampai pada Pitu Ulunna Salu Karua Ba'bana Minanga, dengan memperkenalkan kepada masyarakat setempat suatu pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja "to unnirui' suke pa'pa, to ungkandei kandian saratu yakni pranata sosial yang tidak mengenal strata.

Wilayah timur

Di wilayah timur Tana Toraja, Pasontik bersama Burake Tambolang menyebarkannya ke daerah Pitung Pananaian, Rantebua, Tangdu, Ranteballa, Ta'bi, Tabang, Maindo sampai ke Luwu Selatan dan Utara dengan memperkenalkan pranata sosial yang disebut dalam bahasa Toraja : "To Unnirui' suke dibonga, To unkandei kandean pindan", yaitu pranata sosial yang menyusun tata kehidupan masyarakat dalam tiga strata sosial.

Wilayah tengah

Tangdilino bersama Burake Tangngana menyebarkan aluk ke wilayah tengah Tana Toraja dengan membawa pranata sosial "To unniru'i suke dibonga, To ungkandei kandean pindan".

Kesatuan adat

Seluruh Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo ( wilayah Tana Toraja) diikat oleh salah satu aturan yang dikenal dengan nama Tondok Lepongan Bulan Tana Matari' Allo yang secara harafiahnya berarti "Negri yang bulat seperti bulan dan Matahari". Nama ini mempunyai latar belakang yang bermakna, persekutuan negeri sebagai satu kesatuan yang bulat dari berbagai daerah adat. Ini dikarenakan Tana Toraja tidak pernah diperintah oleh seorang penguasa tunggal, tetapi wilayah daerahnya terdiri dari kelompok adat yang diperintah oleh masing-masing pemangku adat dan ada sekitar 32 pemangku adat di Toraja.

Karena perserikatan dan kesatuan kelompok adat tersebut, maka diberilah nama perserikatan bundar atau bulat yang terikat dalam satu pandangan hidup dan keyakinan sebagai pengikat seluruh daerah dan kelompok adat tersebut.

Upacara adat

Di wilayah Kab. Tana Toraja terdapat dua upacara adat yang amat terkenal , yaitu upacara adat Rambu Solo' (upacara untuk pemakaman) dengan acara Sapu Randanan, dan Tombi Saratu', serta Ma'nene', dan upacara adat Rambu Tuka. Upacara-upacara adat tersebut di atas baik Rambu Tuka' maupun Rambu Solo' diikuti oleh seni tari dan seni musik khas Toraja yang bermacam-macam ragamnya.

Rambu Solo

Adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga yang almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi.

Tingkatan upacara Rambu Solo

Upacara Rambu Solo terbagi dalam beberapa tingkatan yang mengacu pada strata sosial masyarakat Toraja, yakni:

* Dipasang Bongi: Upacara pemakaman yang hanya dilaksanakan dalam satu malam saja.
* Dipatallung Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama tiga malam dan dilaksanakan dirumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.
* Dipalimang Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.
* Dipapitung Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang pada setiap harinya dilakukan pemotongan hewan.

Upacara tertinggi

Biasanya upacara tertinggi dilaksanakan dua kali dengan rentang waktu sekurang kurangnya setahun, upacara yang pertama disebut Aluk Pia biasanya dalam pelaksanaannya bertempat disekitar Tongkonan keluarga yang berduka, sedangkan Upacara kedua yakni upacara Rante biasanya dilaksanakan disebuah lapangan khusus karena upacara yang menjadi puncak dari prosesi pemakaman ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani, seperti : Ma'tundan, Ma'balun (membungkus jenazah), Ma'roto (membubuhkan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah), Ma'Parokko Alang (menurunkan jenazah kelumbung untuk disemayamkan), dan yang terkahir Ma'Palao (yakni mengusung jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir).

Berbagai kegiatan budaya yang menarik dipertontonkan pula dalam upacara ini, antara lain :

* Ma'pasilaga tedong (Adu kerbau), kerbau yang diadu adalah kerbau khas Tana Toraja yang memiliki ciri khas yaitu memiliki tanduk bengkok kebawah ataupun [balukku', sokko] yang berkulit belang (tedang bonga), tedong bonga di Toraja sangat bernilai tinggi harganya sampai ratusan juta; Sisemba' (Adu kaki)
* Tari tarian yang berkaitan dengan ritus rambu solo' seperti : Pa'Badong, Pa'Dondi, Pa'Randing, Pa'Katia, Pa'papanggan, Passailo dan Pa'pasilaga Tedong; Selanjutnya untuk seni musiknya: Pa'pompang, Pa'dali-dali dan Unnosong.;
* Ma'tinggoro tedong (Pemotongan kerbau dengan ciri khas masyarkat Toraja, yaitu dengan menebas kerbau dengan parang dan hanya dengan sekali tebas), biasanya kerbau yang akan disembelih ditambatkan pada sebuah batu yang diberi nama Simbuang Batu.

Kerbau Tedong Bonga adalah termasuk kelompok kerbau lumpur (Bubalus bubalis) merupakan endemik spesies yang hanya terdapat di Tana Toraja. Ke-sulitan pembiakan dan kecenderungan untuk dipotong sebanyak-banyaknya pada upacara adat membuat plasma nutfah (sumber daya genetika) asli itu terancam kelestariannya.

Menjelang usainya Upacara Rambu Solo', keluarga mendiang diwajibkan mengucapkan syukur pada Sang Pencipta yang sekaligus menandakan selesainya upacara pemakaman Rambu Solo'.

Rambu Tuka
Tarian Manganda' pada upacara Ma'Bua'

Upacara adat Rambu Tuka' adalah acara yang berhungan dengan acara syukuran misalnya acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau yang selesai direnovasi; menghadirkan semua rumpun keluarga, dari acara ini membuat ikatan kekeluargaan di Tana Toraja sangat kuat semua Upacara tersebut dikenal dengan nama Ma'Bua', Meroek, atau Mangrara Banua Sura'.

Untuk upacara adat Rambu Tuka' diikuti oleh seni tari : Pa' Gellu, Pa' Boneballa, Gellu Tungga', Ondo Samalele, Pa'Dao Bulan, Pa'Burake, Memanna, Maluya, Pa'Tirra', Panimbong dan lain-lain. Untuk seni musik yaitu Pa'pompang, pa'Barrung, Pa'pelle'. Musik dan seni tari yang ditampilkan pada upacara Rambu Solo' tidak boleh (tabu) ditampilkan pada upacara Rambu Tuka'.

Nilai Tradisi Vs Keagamaan

DALAM kepercayaan asli masyarakat Tana Toraja yang disebut Aluk Todolo, kesadaran bahwa manusia hidup di Bumi ini hanya untuk sementara, begitu kuat. Prinsipnya, selama tidak ada orang yang bisa menahan Matahari terbenam di ufuk barat, kematian pun tak mungkin bisa ditunda.

Sesuai mitos yang hidup di kalangan pemeluk kepercayaan Aluk Todolo, seseorang yang telah meninggal dunia pada akhirnya akan menuju ke suatu tempat yang disebut puyo; dunia arwah, tempat berkumpulnya semua roh. Letaknya di bagian selatan tempat tinggal manusia. Hanya saja tidak setiap arwah atau roh orang yang meninggal itu dengan sendirinya bisa langsung masuk ke puyo. Untuk sampai ke sana perlu didahului upacara penguburan sesuai status sosial semasa ia hidup. Jika tidak diupacarakan atau upacara yang dilangsungkan tidak sempurna sesuai aluk (baca: ajaran dan tata cara peribadatan), yang bersangkutan tidak dapat mencapai puyo. Jiwanya akan tersesat.

"Agar jiwa orang yang ’bepergian’ itu tidak tersesat, tetapi sampai ke tujuan, upacara yang dilakukan harus sesuai aluk dan mengingat pamali. Ini yang disebut sangka’ atau darma, yakni mengikuti aturan yang sebenarnya. Kalau ada yang salah atau biasa dikatakan salah aluk (tomma’ liong-liong), jiwa orang yang ’bepergian’ itu akan tersendat menuju siruga (surga)," kata Tato’ Denna’, salah satu tokoh adat setempat, yang dalam stratifikasi penganut kepercayaan Aluk Todolo mendapat sebutan Ne’ Sando.

Selama orang yang meninggal dunia itu belum diupacarakan, ia akan menjadi arwah dalam wujud setengah dewa. Roh yang merupakan penjelmaan dari jiwa manusia yang telah meninggal dunia ini mereka sebut tomebali puang. Sambil menunggu korban persembahan untuknya dari keluarga dan kerabatnya lewat upacara pemakaman, arwah tadi dipercaya tetap akan memperhatikan dari dekat kehidupan keturunannya.

Oleh karena itu, upacara kematian menjadi penting dan semua aluk yang berkaitan dengan kematian sedapat mungkin harus dijalankan sesuai ketentuan. Sebelum menetapkan kapan dan di mana jenazah dimakamkan, pihak keluarga harus berkumpul semua, hewan korban pun harus disiapkan sesuai ketentuan. Pelaksanaannya pun harus dilangsungkan sebaik mungkin agar kegiatan tersebut dapat diterima sebagai upacara persembahan bagi tomebali puang mereka agar bisa mencapai puyo alias surga

Jika ada bagian-bagian yang dilanggar, katakanlah bila yang meninggal dunia itu dari kaum bangsawan namun diupacarakan tidak sesuai dengan tingkatannya, yang bersangkutan dipercaya tidak akan sampai ke puyo. Rohnya akan tersesat. Sementara bagi yang diupacarakan sesuai aluk dan berhasil mencapai puyo, dikatakan pula bahwa keberadaannya di sana juga sangat ditentukan oleh kualitas upacara pemakamannya. Dengan kata lain, semakin sempurna upacara pemakaman seseorang, maka semakin sempurnalah hidupnya di dunia keabadian yang mereka sebut puyo tadi.

To na indanriki’ lino
To na pake sangattu’
Kunbai lau’ ri puyo
Pa’ Tondokkan marendeng
Kita ini hanyalah pinjaman dunia yang dipakai untuk sesaat. Sebab, di puyo-lah negeri kita yang kekal. Di sana pula akhir dari perjalanan hidup yang sesungguhnya.

Bisa dimaklumi bila dalam setiap upacara kematian di Tana Toraja pihak keluarga dan kerabat almarhum berusaha untuk memberikan yang terbaik. Caranya adalah dengan membekali jiwa yang akan bepergian itu dengan pemotongan hewan-biasanya berupa kerbau dan babi-sebanyak mungkin. Para penganut kepercayaan Aluk Todolo percaya bahwa roh binatang yang ikut dikorbankan dalam upacara kematian tersebut akan mengikuti arwah orang yang meninggal dunia tadi menuju ke puyo.

Kepercayaan pada Aluk Todolo pada hakikatnya berintikan pada dua hal, yaitu padangan terhadap kosmos dan kesetiaan pada leluhur. Masing-masing memiliki fungsi dan pengaturannya dalam kehidupan bermasyarakat. Jika terjadi kesalahan dalam pelaksanaannya, sebutlah seperti dalam hal "mengurus dan merawat" arwah para leluhur, bencana pun tak dapat dihindari.

Berbagai bentuk tradisi yang dilakukan secara turun-temurun oleh para penganut kepercayaan Aluk Todolo-termasuk ritus upacara kematian adat Tana Toraja yang sangat dikenal luas itu-kini pun masih bisa disaksikan. Meski terjadi perubahan di sana-sini, kebiasaan itu kini tak hanya dijalankan oleh para pemeluk Aluk Todolo, masyarakat Tana Toraja yang sudah beragama Kristen dan Katolik pun umumnya masih melaksanakannya. Bahkan, dalam tradisi penyimpanan mayat dan upacara kematian, terjadi semacam "penambahan" dari yang semula lebih sederhana menjadi kompleks dan terkadang berlebihan.

Sebagai contoh, ajaran Aluk Todolo menghendaki agar orang yang meninggal dunia harus segera diupacarakan dan secepatnya dikuburkan. Maksud dari ajaran ini, seperti dikutip oleh M Ghozali Badrie dalam penelitiannya tentang "Penyimpanan Mayat di Tana Toraja", supaya keluarga yang ditinggalkan dapat melaksanakan upacara-upacara lain yang bersifat kegembiraan. Sebab, adalah pamali atau melanggar ketentuan aluk bila upacara kegembiraan (rambu tuka’) dilaksanakan bila ada orang mati (to mate). Untuk mengatasi hal yang berlawanan ini, masyarakat Tana Toraja lalu mengatakan, mayat tersebut belum mati, tetapi dianggap sebagai orang yang masih sakit (to makula). Dengan begitu, mereka yang ingin melaksanakan upacara rambu tuka’ tidak terhalang hanya karena ada mayat di kampung tersebut.

Pemakaman

Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai hewan (Erong). Adat masyarakat Toraja adalah menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Pa'tane).

Beberapa kawasan pemakaman yang saat ini telah menjadi obyek wisata, seperti di :

* Londa, yang merupakan suatu pemakaman purbakala yang berada dalam sebuah gua, dapat dijumpai puluhan erong yang berderet dalam bebatuan yang telah dilubangi, tengkorak berserak di sisi batu menandakan petinya telah rusak akibat di makan usia. Londa terletak di desa Sandan Uai Kecamatan Sanggalai' dengan jarak 7 km dari kota Rantepao, arah ke Selatan, Gua-gua alam ini penuh dengan panorama yang menakjubkan 1000 meter jauh ke dalam, dapat dinikmati dengan petunjuk guide yang telah terlatih dan profesional.

tengkorak di bebatuan gua, Londa. Juli 2008

* Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, yang merupakan kuburan alam yang dipahat pada abad XVI atau setempat disebut dengan Liang Paa'. Jumlah liang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambang-lambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.
* Tampang Allo yang merupakan sebuah kuburan goa alam yang terletak di Kelurahan Sangalla' dan berisikan puluhan Erong, puluhan Tau-tau dan ratusan tengkorak serta tulang belulang manusia. Pada sekitar abad XVI oleh penguasa Sangalla' dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya Rangga Bualaan memilih goa Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal dunia, sebagai perwujudan dari janji dan sumpah suami istri yakni "sehidup semati satu kubur kita berdua". Goa Tampang Alllo berjarak 19 km dari Rantepao dan 12 km dari Makale.
* Liang Tondon lokasi tempat pemakaman para Ningrat atau para bangsawan di wilayah Balusu disemayamkan yang terdiri dari 12 liang.
* To'Doyan adalah pohon besar yang digunakan sebagai makam bayi (anak yang belum tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi.
* Patane Pong Massangka (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) yang dibangun pada tahun 1930 untuk seorang janda bernama Palindatu yang meninggal dunia pada tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan Sapu Randanan. Pong Massangka diberi gelar Ne'Babu' disemayamkan dalam Patane ini. tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat . Jaraknya 9 km dari Rantepao arah utara.
* Ta'pan Langkan yang berarti istana burung elang. Dalam abad XVII Ta'pan Langkan digunakan sebagai makam oleh 5 rumpun suku Toraja antara lain Pasang dan Belolangi'. Makam purbakala ini terletak di desa Rinding Batu dan memiliki sekian banyak tau-tau sebagai lambang prestise dan kejayaan masa lalu para bangsawan Toraja di Desa Rinding Batut. Dalam adat masyarakat Toraja, setiap rumpun mempunyai dua jenis tongkonan tang merambu untuk manusia yang telah meninggal. Ta'pan Langkan termasuk kategori tongkonan tang merambu yang jaraknya 1,5 km dari poros jalan Makale-Rantepao dan juga dilengkapi dengan panorama alam yang mempesona.
* Sipore' yang artinya "bertemu" adalah salah satu tempat pekuburan yang merupakan situs purbakala, dimana masyarakat membuat liang kubur dengan cara digantung pada tebing atau batu cadas. Lokasinya 2 km dari poros jalan Makale-Rantepao.

Tempat upacara pemakaman adat
"Rante"

Rante yaitu tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir/megalit yang dalam Bahasa toraja disebut Simbuang Batu. 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu.

Megalit/Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurang-kurangnya 24 ekor).

Tau-tau

Tau-tau adalah patung yang menggambarkan almarhum. Pada pemakaman golongan bangsawan atau penguasa/pemimpin masyarakat salah satu unsur Rapasan (pelengkap upacara acara adat), ialah pembuatann Tau-tau. Tau-tau dibuat dari kayu nangka yang kuat dan pada saat penebangannya dilakukan secara adat. Mata dari Tau-tau terbuat dari tulang dan tanduk kerbau. Pada jaman dahulu kala, Tau-tau dipahat tidak persis menggambarkan roman muka almarhum namun akhir-akhir ini keahlian pengrajin pahat semakin berkembang hingga mampu membuat persis roman muka almarhum.